Home > Kehidupan Ibu > Baby L Birth Story

Baby L Birth Story

Joan Elvano Atarya :: Anugerah Terindah dari Tuhan yang Bijaksana

27 November 2015 17.15

UK 38w

BB 2,46 kg TB 44 cm

RSIA Mutiara Bunda Salatiga

Dr. Herwati, SPOG

Joan Elvano

Malam itu, menjelang 27 November 2015, mata ini susah untuk terpejam. Memang sejak memasuki minggu ke 37 usia kandungan susah untuk tidur malam yang nyenyak. Rasanya kepanasan sampai kudu pakai kipas angin, miring kiri ataupun kanan tetep belom nemu posisi nyaman, jagoan di perut juga makin aktif goyang sana sini.

Tiba-tiba rasanya perut kram seperti waktu PMS, ini baru pertama kali dirasakan semenjak hamil. Rasa di perut itu hanya sebentar, mungkin tidak sampai satu menit lamanya, namun kira-kira 15 menit kemudian terasa lagi. Mulailah menjalankan aplikasi Kontraksi Nyaman dari Bidan Yessie, supaya bisa santai, tenang tapi tetap waspada. Kemudian ingat suami yang posisi sedang LDR, langsung saja memberi kabar melalui WhatsApp, meski yang dikabari sedang tidur pulas.

Kontraksi masih berjarak panjang dan berdurasi singkat, mata dicoba untuk merem, tapi tetap saja susah tidur. Rasanya senang tapi juga dag dig dug, senang akan bertemu si jagoan, dag dig dug karena semua serba tak terduga.

Setelah subuh tiba pesan di WhatsApp pun terbalas (Yay!). Calon Bapak langsung cuti dan mencari tiket pulang, pilihannya hanya naik pesawat pukul 12:00 atau 14:00, dan demi memilih penerbangan yang lebih murah, dipilihlah yang kedua. Hahahaha. Pas banget, hari itu Jumat, jadi sementara hanya perlu cuti sehari.

Setelah urusan dengan Calon Bapak selesai, melipir ke kamar Calon Mbah Kung dan Mbah Uti, mengabarkan bahwa Cucunya akan segera launching. Kemudian sarapan, mandi, nonton TV sambil merasakan sensasi mules yang hilang timbul.

Saat kontraksi sudah per 5 menit akhirnya diputuskan untuk ke RSIA. Tadinya ingin lahiran di Bidan, namun berhubung HB cuma di angka 8 dan gak naik-naik, batal deh. Setelah ganti baju yang cantik, siapin tas, foto-foto dulu deh dengan perut besar (sempet narsis) kemudian meluncur ke RS langsung cus ke IGD nya.

Di IGD disambut bidan jaga, dicek kontraksinya dan VT, masih bukaan 1, padahal kontraksi dah per 5 menit, prediksiku bukaan udah 4 ke atas. Yasudah lah, diputuskan untuk langsung inap di RS, urus administrasi. Bidan memperkirakan lahir paling cepet malam atau besok pagi. Memang ya, VT itu bakalan terasa sangat tidak nyaman saat bukaan masih 1. Heuw, bikin sedih. Hehehehe.

Masuk kamar, cari posisi PW, pakai lagi aplikasi Kontraksi Nyaman sekitar pukul 12:42. Calon Bapak masih OTW ke bandara. Memang jos si Jagoan, pilihnya hari Jumat, biar Bapak nya gampang. Di dalam kamar, berusaha untuk tenang, tapi posisi mulai gak karuan, atur nafas dan dengerin afirmasi positif, tetep aja sering ikut terlarut dalam mules yang hebat, rasanya seperti ada gelombang besar di dalam perut, mendesak dan mendorong. Tidak ada suami yang dipeluk, ibu pun boleh lah. Sampai kapan pun, pelukan ibu memang hangat (hasyah).

Kontraksi makin hebat, bidan akhirnya dipanggil, setelah minum segelas air putih penuh doa (hihihihi), berangkatlah ke ruang bersalin dengan kursi roda. Asli, udah gak kuat jalan rasanya, karena kontraksinya per menit, baru mau melangkah sudah mules lagi.

Masuk ruang bersalin, kontraksi agak reda. Setelah ganti kostum berasa lagi mules, tapi ini mules beneran pengen BAB (padahal tadi siang ditawarin obat urus-urus masih kutolak). Setelah ijin ke bidan jaga, tersalurkanlah hasrat BAK dan BAB, masih bisa jalan sendiri pelan-pelan ke toilet. Mungkin ini masuk masa transisi ya. J

Mules makin aduhai, kadang inget nafas, kadang kelepasan teriak, berhubung juga agak lebay, rasanya puas kalau udah bisa ngeluarin suara. Hahahaha. Untung bidan nya gak galak, paling cuman bilang ‘nafasnya bu…’. Hihihihi.

Gak berapa lama kemudian Calon Bapak tiba juga di ruang bersalin (jam 4 sore kira-kira). Si Jagoan sering dijampi-jampi Bapak nya supaya lahir nunggu dia dan manjur. Begitu Bapak nya sampai, tambah heboh dorongan dari dalam rahim, rasanya seperti ada yang mendesak ingin keluar. Kamu memang pintar sayang, tau aja.

Setelah mendapat instruksi by phone dari DSog, bidan memasang infus dan meminta keluarga cari 1 kantong darah. Infus dipasang tanpa terasa sakit di tangan, berasa jarumnya masuk aja engga.. hahahaha. Saking fokus ke perut kali ya.

Calon Bapak dengan setia memegang tangan memberi semangat (romantis dikit), mengingatkan untuk nafas. Gak sia-sia beliin buku dan paksa baca, Calon Bapak jos banget sebagai pendamping persalinan. Paham kebutuhan Ibu dan bisa mengomunikasikannya ke nakes.

VT dilakukan tanpa terasa, bidan nya langsung berubah mukanya. Si Jagoan sepertinya dah sangat siap untuk launching. Buru-buru bidan meminta supaya badan miring kiri, sambil tangan nya masih di dalam menahan si Jagoan sambil nunggu DSog yang kabarnya lagi ngebut menuju RS. Setiap kontraksi, ditahan biar si Jagoan jangan launching dulu. Sepertinya jagoan memang sudah sangat ingin keluar.

Akhirnya bu DSog datang juga, langsung sterilkan tangan, suntik bius, gunting perineum (SOP nya deh). Bidan mulai mempersiapkan untuk proses lahir dengan terburu-buru, untung ada Suami kece yang support.

“udah kelihatan kepalanya” si Bapak berceletuk

“iya kah” (bahagia dan tambah semangat deh si Ibu)

Mulailah aba-aba nafas mengejan. Ups, saking dari tadi disuruh nahan, malah keliru nafas relax, kepala bayi masuk lagi deh. Hehehehe. Aba-aba kedua, dengan full power akhirnya si Jagoan keluar juga. (Yay) proses yang cukup singkat.

Kecupan sayang langsung mendarat di kening, “Istriku hebat” katanya. (ow..ow..ow..romantis lagi) senyum bahagia terpancar di muka kami, para nakes pun mengucapkan syukur, diiringi tangisan Jagoan dan cekikikan bu Bidan yang kena sentoran pipis Jagoan. Mungkin Jagoan protes, dari tadi koq ditahan mulu, keburu mau pipis dan pupup ternyata dia.

Jagoan yang sudah dibersihkan ditaruh di atas dada. Saat yang sangat romantis. Skin to skin pertama. “Halo sayang”. Kagum, syukur, bahagia campur aduk deh. Mulai diraba kepalanya,  badannya, dipandangi mukanya, dikecup. Kecil sekali kamu nak. Ternyata begini ya kamu yang suka goyang di perut Ibu.

Merangkak naik, Jagoan kecil itu menjelajah sambil mengenyot jempolnya. Proses IMD. Kami, yang ikut terlahir sebagai orang tua, Bapak dan Ibu terharu memandangnya. (sambil proses jahit menjahit yang sedikit terasa).

Setelah dibersihkan dan menunggu agak lama, akhirnya boleh menuju kamar. Jagoan masih dihangatkan di kotak. Lega. Kecupan selamat dari Uti dan telpon dari Oma nya menambah keriuhan. 1 kantong transfusi darah pun kemudian ditambahkan ke dalam infus.

Saat Jagoan diantar ke kamar, semua menyambut dengan riang. Hihihihi. Malam itu kami, Bapak Ibu Anak yang baru terlahir tidur dalam satu kamar dengan penuh syukur.

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: