Home > jalan - jalan > Jalan – Jalan ke Sea World

Jalan – Jalan ke Sea World

Informasi Penting :
Jam operasi : 09.00 – 18.00 WIB
Letak : di dekat Lokasi Gondola *petunjuk lokasi yg absurb*
Harga tiket : 2th <usia <55th 70ribu, diatas 55th 40ribu
Info Peraturan  :
Tidak diperbolehkan makan dan minum di dalam lokasi Sea World.
Perhatikan aturan mengambil gambar atau memotret dalam Sea World, terdapat beberapa akuarium yang tidak diijinkan dipotret dengan flash.
Kita bisa keluar dan masuk kembali ke Sea World dengan menunjukkan cap Sea World, cap itu berlaku 1 hari, sehingga kita bisa keluar untuk makan dan minum, lalu kembali lagi untuk melihat ikan.
Perhatikan arahan dari petugas saat menyentuh binatang.

cerita lengkapnya :

Libur tlah tiba.. libur tlah tiba.. hore.. hore.. hore!!! *menyanyikan lagunya Tasya, sambil tersenyum di depan kaca*. Liburan sebenarnya udah berlalu seminggu, bahkan saat aku memutuskan untuk jalan-jalan ke Sea World di Ancol, itu adalah H-2 sebelum kembali bekerja. Rasa bosan berada di kost, dengan aktifitas seputar dapur, laptop, film dan game, membuatku haus akan petualangan dunia luar, maka pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya, bergegas mandi kemudian sarapan dan berangkat menuju Ancol. Mengapa pergi ke Sea World? Karena aku ingin melihat ikan! Jawaban jelas yang lugu layaknya jawaban anak kecil yang tak perlu mempunyai banyak alasan untuk menginginkan sesuatu, itulah mengapa aku ingin ke Sea World. Yah, hanya untuk melihat ikan. Aku membawa perbekalan dalam sebuah tas putih yang kemarin baru saja kucuci bersih, sehingga aku berani bilang kalau tas itu adalah tas putih. *nyengir* Di dalam tas itu sudah lengkap snack, air putih, tisu basah dan kering, perlengkapan wanita dan tentu saja kamera. Berangkat sekitar pukul 8 pagi menuju blok M, , ditemani seorang sahabat baik yang begitu memahamiku, kamipun melangkahkan kaki menuju Sea World, jalanan jakarta begitu lengang, nyaman sekali rasanya. Dari halte bus transjakarta Gelora Bung Karno, aku menuju halte Harmoni, di halte itu kemudian menanti bus transjakarta khusus wisata dengan tujuan Ancol. Sekitar 15 menit perjalanan menuju Ancol di dalam bus transjakarta yang cukup sejuk. Saat melangkahkan kaki keluar dari bus, udara panas Jakarta Utara menyambutku dengan cengiran sinisnya, dalam imajinasiku seolah dia sedang tersenyum puas, memandang aku yang begitu kuyu karena kepanasan. Sungguh, hal yang tidak kusenangi dari ibu kota ini adalah panasnya yang begitu panas! Mungkin karena aku berasal dari kota kecil yang dingin dan sejuk di kaki gunung, dimana aku tidak memerlukan pendingin ruangan melainkan sebuah selimut tebal untuk menemaniku tidur. Sesampainya di halte bus transjakarta Ancol, kemudian membeli tiket masuk, aku kemudian melihat peta Ancol, kucari lokasi Sea World berada. Hum, cukup jauh juga dari tempat dimana sekarang aku berdiri. Tapi, siapa takut?! Hajar!
Ada bus internal yang melayani pengunjung Ancol untuk mengantarkan berkeliling dari 1 lokasi ke lokasi lainnya di Ancol. Namun, bus kecil itu begitu penuh sesak oleh manusia. Aku sungguh tak berminat untuk ada di dalam bus itu, berdesakan layaknya bola-bola coklat yang ditaruh dalam kantong plastik yang lebih kecil volumenya ketimbang jumlah volume bola-bola coklat itu. Heh?! Koq malah coklat? Lagipula, masak iya muat? Imajinasiku kali ini telalu nikmat. Hum, sekantong coklat! Yummy! Yah, pokoknya berdesakan sampai bernafaspun terlihat susah. Maka, aku putuskan untuk berjalan saja dengan santai menuju lokasi Sea World. Hari ini kan jalan-jalan, maka harus dinikmati dengan jalan-jalan pula. *dalam arti kata sebenarnya* Berjalan di bawah terik matahari pagi menjelang siang yang menyengat, membuatku bersusah payah mencari bayangan pohon rindang yang membawa keteduhan. Untungnya trotoar di samping jalan aspalan samping sungai itu cukup dihiasi dengan pohon-pohon yang berderet cantik laksana raksasa yang membawakan payung untukku. Penghiburan yang menyenangkan! Tak lama, meski terasa lama, sampai juga di Sea World, setelah membeli tiket masuk seharga 70ribu rupiah, karena aku berusia lebih dari 2 tahun dan kurang dari 55 tahun, bergegaslah aku masuk ke dalam, untuk segera menikmati sejuknya pendingin ruangan di dalam Sea World. (usia di bawah 2 tahun gratis, usia di atas 55 tahun bayar 40ribu rupiah)
Setelah tanganku dicap dengan stempel Sea World yang bekasnya tidak hilang sampai 2 hari, aku pun mulai menikmati keragaman ikan di dalam Sea World. Ada ikan air tawar ukuran super besar, berbentuk seperti arwana, yang diambil dari sungai Amazon, ikan yang super besar untuk ukuran ikan air tawar itu berada di sebuah akuarium besar bersama ikan lele ukuran jumbo. Ikan-ikan besar itu membuatku melongo cukup lama di depannya. Hum, ingin sekali masuk dan memeluk ikan yang besarnya lebih dari guling kesayanganku. Disampingnya ada kolam Dugong atau ikan Duyung. Tapi sayangnya, ikan duyungnya malu-malu, alias tidak mau nongol di deket kaca, ditambah dengan air kolamnya yang keruh, membuatku hanya mampu melihat ekornya saja. Ada ikan arwana merah, yang memang warna sisiknya terlihat merah. Ada 1 lagi akuarium besar yang dipenuhi dengan ikan air laut berukuran mini yang berwarna-warni, ditambah dengan terumbu karang berwarna-warni, alhasil akuarium besar itu menjadi akuarium yang paling cantik. Ikan-ikan cantik itu berenang kesana-kemari, lucu sekali! Membuatku bermimpi memiliki akuarium sebesar itu di rumah. Ini benar-benar hanya mimpi! Aku juga melihat ada sea horse atau kuda laut berada di akuarium kecil berbentuk bulat, mereka berenang di dekat rumput laut, kolam itu begitu kecil dan mereka bergerombol di situ saja. Kasihan juga melihatnya. Ada si Giant Octopus, ikan gurita raksasa. Namun jangan bayangkan sebesar rumah ya! Giant Octopus ini bukan seperti yang ada di film dan sanggup menelan kapal. *atau Cuma aku aja yang membayangkan seperti itu? Hihi* Giant Octopus ini berada di akuarium sempit, ukurannya memang lebih besar dari gurita yang biasa kita santap dengan sebutan Takoyaki, makanan ala Jepang. Tapi tidak lebih besar dari ikan air tawar super besar tadi. Guritanya terlihat malu-malu, mungkin juga dia tidak nyaman karena akuariumnya yang tidak giant. Kita boleh memotret gurita ini, tapi dilarang menggunakan flash. Di samping gurita masih ada si belut laut. Ukurannya cukup besar! Seukuran kakiku mungkin, yang jelas lebih besar dari yang biasa kita makan sebagai keripik belut yang lezat! Warnanya hitam dan ada juga yang totol-totol seperti macan tutul. Mereka suka bersembunyi di bebatuan dan pipa-pipa yang sengaja diletakkan di dalam akuarium mereka. Masih ada juga udang laut, kepiting, ikan kerapu, ikan Fugu, ikan Badut, anemon laut, dan kawan-kawannya. Masih ada lagi 2 akuarium yang menarik perhatianku yaitu akuarium si Hiu dan akuarium utama. Di dalam akuarium ikan Hiu, tentu isinya ikan-ikan hiu, ada bermacam-macam ikan hiunya, yang jelas semuanya hiu. Hehehehe. Ada yang super besar, tapi ada juga yang kecil. Mereka suka berenang berputar dekat dengan kaca, sehingga kita bisa memegang kaca akuarium tepat saat mereka berada dekat dengan kaca, berfoto dengan mereka, atau sekedar mengambil fotonya. Asyik juga rasanya! Kolam utama adalah kolam dimana kita bisa melihat pertunjukkan penyelam yang memberi makan pada ikan-ikan (sekitar 3 kali pertunjukan dalam sehari, saat hari libur). Di dalamnya juga terdapat kanal sepanjang 30meter *kalau tidak salah ingat* dimana kita bisa berjalan di dalam kanal tersebut, sambil melihat ikan-ikan berenang di kanan-kiri kita. Sayang, saat kesana kemarin cukup ramai, jadi kurang bisa bersantai di dalam kanal ini. Tapi, udah cukup puas sih melihat ikan-ikan berenang di sekeliling kita. Ikan yang paling lucu adalah ikan Pari, dia suka sekali memamerkan diri, berenang mendekati kaca. Selain akuarium-akuarium yang berisi bermacam-macam ikan, ada juga Touch Pool atau kolam sentuh. Kita bisa menyentuh penyu, anak ikan hiu, bintang laut. Tapi, aku kurang tertarik untuk menyentuh mereka. Hehehe. Melihatnya saja udah cukup puas! Ada juga perpustakaan Sea World, di dalamnya terdapat buku-buku mengenai kehidupan laut dan ikan. Ada ruang dimana kita bisa melihat film dokumenter tentang kehidupan laut. Saat memasuki ruang tersebut, sebuah film sedang diputar, aku duduk sebentar, kira-kira 5 menit dan pergi keluar karena bosan. Hehe. Film yang ditayangkan layaknya seperti film yang ada di discovery channel. Di dalam Sea World juga ada museum, tempat kita bisa melihat ikan purba dan juga ikan-ikan yang sudah diawetkan. Ada satu ikan pari besar yang diawetkan. Ikan itu bernama parni, saat mati usianya 70 tahun. Cukup tua bukan? Di pojok museum ada ruang khusus dimana kita bisa menikmati refleksi dengan ikan-ikan kecil. Namun kita perlu mengeluarkan uang dari dompet untuk menikmatinya, biayanya 40ribu.
Begitulah liburan di Sea World, cukup menyenangkan melihat ikan-ikan itu! Setelah puas, pulang deh!

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: